Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryMar 5, '10 1:11 AM
for everyone
Di saat orang-orang mempertanyakan tentang sosialisasi anak-anak HE, Bunda malah ngerasa perlu tidak sih Kalila di usia yang baru mau 4 ini punya teman ?

Sebenarnya sih ini curhatnya Bunda yang lagi merasa "down" banget dengan tingkah lakunya Kalila. Setelah Bunda istirahatkan bergaul dengan temannya yang suka berteriak dan menendang. Sekarang gantian berulah menangis dan tidak mau mendengar penjelasan. Biasanya Kalila jika ingin sesuatu maka dia akan meminta dengan baik-baik. Kalaupun menangis tetap bisa diberi tahu dengan baik-baik.

Setelah diperhatikan ternyata Kalila seperti itu mengikuti temannya yang lain lagi. Bahkan dia berbicara dengan dialek seperti temannya itu.

Saat ini Bunda berpikir "Apa gunanya mengajarkan anak berteman dengan yang lain jika Kalila hanya meniru yang tidak baik ?"

Jika memang ingin belajar berbagi, bisa dengan adik Kaysan.

Contoh hal lain lagi :
Bunda selalu mengajarkan untuk menghargai hak milik orang lain. Kita tinggal di Cluster yang memang tiap rumah tidak berpagar. Jika Kalila ingin memasuki halaman rumah orang lain atau hanya sekedar menginjak putri malu, Bunda akan mengingatkan bahwa itu bukan rumah Kalila. Teman Kalila, bukan hanya memasuki pekarangan saja, bahkan berani duduk di terasnya dan tidak bisa dikasih tahu. Teman yang lain, enak saja memetik daun di pohon orang lain.

Yang selalu menjadi pertanyaan Kalila adalah "kenapa mereka boleh ? kok mamanya atau neneknya atau mbak atau susternya tidak melarang ?"

Kenapa mereka boleh makan diluar ? kan debu ? kenapa mereka boleh ?
Kenapa mereka menangis ? kenapa kok aku harus berbagi tapi mereka tidak mau berbagi ?

Bunda memutuskan untuk Kalila tidak "bersosialisasi" dahulu dengan teman-temannya.
Semoga ini memang jalan yang terbaik



28 Comments
lovusa wrote on Mar 5, '10
yuuukk,, ketemuaaan. sekalian curhat :)
dianmardi wrote on Mar 5, '10
ehmm, sepertinya berteman tetap perlu Gita... setidaknya, untuk menunjukkan contoh baik dan contoh tidak baik.... ;)
gitaavie wrote on Mar 5, '10
ehmm, sepertinya berteman tetap perlu Gita... setidaknya, untuk menunjukkan contoh baik dan contoh tidak baik.... ;)
tapi temen yang sekarang sama sekali belum menunjukkan contoh baik. dimana ya cari temen yang baik dan bisa dicontoh ? *masih curhat* :)
atau usia sekarang belum perlu teman ya ?
dianmardi wrote on Mar 5, '10
Gita, sbenernya aku pernah mengalami hal serupa. Alfan bergaul sama teman sebayanya sejak dia bisa jalan. Teman Alfan macem2,ada yang anak komplek, anaknya tk becak, tk cuci, kuli bangunan dsb. Ada yg males mandi, ada yg susah makan, ada yg suka curang, ada juga yg sopan, pinter, berani, dll. Berteman itu menguntungkan kok, karena akan memperkaya pengalaman anak. Soal meniru perilaku jelek temannya, Alfan juga pernah. Aku pake cara mendiamkan spt yang pernah aku ceritakan ke Gita itu. alhamdulillah brhasil.
dianmardi wrote on Mar 5, '10
yang penting kita konsisten dengam aturan kita. Apakah Kalila sudah diajarkan konsekuensi atau sanksi kalo dia melanggar aturan? Selama kita konsisten, insya Allah aturan kita akana tetap tegak walaupun ada pengaruh dari pihak luar... begitu Gita, mudah2an bermanfaat.. ;)
gitaavie wrote on Mar 5, '10
Alfan suka mempertanyakan ga sih Mba, kenapa mereka begitu dan didiamkan sama yang mengasuh mereka ? kenapa mereka boleh dan aku tidak ? jadi seolah-olah dia pengen jadi mereka aja yang boleh ini dan itu. Kalo aku diamkan dia malah menikmati.
Contoh : sudah waktunya pulang, dia tidak mau pulang karena temannya juga belum pulang. Aku kasih pengertian kalo sudah mau magrib dan sebagainya, dia malah nangis kenceng. Temennya nangis, akhirnya sama neneknya dia boleh main diluar lagi.

Aku melihatnya begini Mba, si anak yang Kalila lagi jadi followernya ini, juga tidak suka mandi dan susah makan, tapi Kalila tidak meniru yang itu. Dia meniru sikapnya ketika apa yang diinginkannya tidak dipenuhi, nangis dan tidak bisa diberi pengertian.
dianmardi wrote on Mar 5, '10
Sering, Git. Protes dan ngeyel. Dan buatku lebih baik Alfan nangis protes daripada aku membolehkannya melanggar. Gak mau pulang main, kugotong aja, bawa pulang. Gak mau mandi, kubawa ke pancuran, guyur pake air. Gak patuh sama kursi hukuman (turun dari kursi sebelum waktunya), aku balik2in lagi di kursi hukuman tanpa bicara. Beberapa orang menilai aku kejam dan galak. Tapi, kalo nggak begitu gimana aturan mau jalan? Kalo anakku jadi nggak terkendali, emangnya mereka mau gantiin jadi orang tuanya? hehehe
dianmardi wrote on Mar 5, '10
pada awal dikenalkan dg konsekuensi memang anak2 jadi sering tantrum, Gita. Tapi kalau kita konsisten, lama2 anak2 ngerti kok. Kayak Abyaz sekarang, kalau dia gigit Alfan atau melempar benda2, dg sukarela duduk di kursi hukuman sampe aku bilang boleh turun, walaupun sambil mewek2.
gitaavie wrote on Mar 5, '10
gitu ya Mba :) iya..kalo aku gotong-gotong begitu, kok galak banget ya ? ^_^
InsyaAllah deh aku mau jadi "kejam" dan semoga Kalila n Kaysan memahami dan mengerti maksud Bundanya :)

Terima kasih ya Ibuk Dian
dianmardi wrote on Mar 5, '10
sama2 Bunda Gita... Papaku dulu malah lebih "gila" lagi caranya. Adekku pernah mogok mandi. Trus sama papa digotong ke kamar mandi terus dipipisin sama papa kakinya. Kan dia jijik tuh? dan terpaksa akhirnya mandi... hihihihi dan sejak itu dia kapok mogok mandi lagi...

jadi kesimpulannya, tetap biarkan Kalila Kaysan berteman dengan siapa saja, asal kendali dan aturan tetap di tangan Bunda dan Ayah.
gitaavie wrote on Mar 5, '10
Papaku dulu malah lebih "gila" lagi caranya.
waaaa parah :) unforgetable moment kali ya buat adek nya Mba Dian..hihihi..
gitaavie wrote on Mar 5, '10
lovusa said
yuuukk,, ketemuaaan. sekalian curhat :)
sms ya Ummu Cha Cha
lovusa wrote on Mar 5, '10
aku pun kaya mbak dian gitu, mbak. makanya tetangga sini aneh kali ngeliat aku.
kalo udah waktunya pulang, meski cha nangis, tetep kugendong bawa pulang. sampe rumah nangis makin kenceng. kudiemin aja, biar dia puas nangis dulu. setelah itu baru deh ngomong heart to heart, sambil pelukan dan diusap2. biasanya cha jadi lebih mudah nerima penjelasan..

btw, aku telp, kok ga bisa ya, mbak?
gitaavie wrote on Mar 5, '10
lovusa said
btw, aku telp, kok ga bisa ya, mbak?
oh gitu ya ? yang flexi kan ? coba ku telp ya ?
wietski wrote on Mar 5, '10
wah,baca komen2 dibwh jd ngerasa caraku mengasuh bisa diprotes ibu2 MP nih, contohnya, tahun lalu, atala bs ga mandi berhari2,tapi aku ga melihatnya sebagai pemberontak,atau artinya peraturan gagal ditegakkan,aku melihatnya sebagai ajang belajar mengekspresikan diri dan mempertahankan pendapat, change management memang lama. tahun ini,atala sndiri yg minta mandi 2x sehari. menurutku,anak meniru itu bagian dari belajar,keinginan untuk blend in udah pasti ada,malah enakkan bs mendampingi saat anak belajar trial n error begini,maaf kalo ga nyambung
lovusa wrote on Mar 5, '10, edited on Mar 5, '10
hehehe...aku ga protes kok, mbak :D
tiap keluarga pasti punya pandangan dan cara sendiri2 untuk kebaikan anak..
Comment deleted at the request of the author.
gitaavie wrote on Mar 5, '10
iya Mba Wiet, aku suka baca juga cerita Atala yang ga mau mandi, dsb. Kalau yang buat aku down banget itu, cara nya Kalila untuk berkomunikasi menyatakan maksudnya. Tolong katakan baik-baik, tanpa harus menangis dan berteriak apalagi menendang, dan lain sebagainya. Mba Wiet, kapan ya kita bisa tahu ini yang harus diubah dan bagian mana yang memang dibiarkan saja sampai dia tahu sendiri ? Misalnya : ga mau mandi, ok dibiarkan sampai dia mau, atau harus mau sambil dikasih penjelasan. Aku takut kalau kelamaan dengan kebiasaan buruk itu jadi sulit kan untuk merubahnya. Parameternya apa ? *makin ga nyambung ya* :)
wietski wrote on Mar 5, '10
kalau pandanganku setiap anak pasti melewati fase ini, nanti pas remaja emosi jg akan kembali meledak2,kontrol emosi kan perlu waktu untuk bs menguasainya. aku coba fokus ke apa yg sdg dicoba untuk disampaikan. kalau sudah terlanjur tantrum,ga ada gunanya mencoba memperbaiki,itu seperti berusaha mengajarkan anak berenang dari pinggir kolam saat anak sedang megap2 hampir tenggelam. kalau skrg atala lg punya kebenarannya sendiri,ga bs dikasih tau,kegiatan belajar jadi sulit krn dibantah terus
nengirma wrote on Mar 6, '10, edited on Mar 6, '10
jadi belajar banyak. tfs....
gitaavie wrote on Mar 6, '10
Mba Wiet...apakah anak 4 tahun itu kalo lagi tanrum harus didiemin, misalnya : dia sudah berjanji akan pulang jam 05.00, lalu jam 05.00 tidak mau pulang dan berteriak-teriak, haruskan didiamkan. Karena aku berpikir, jika didiamkan, dia akan mengulangi itu lagi alih-alih berkata dengan baik dan bernegosiasi. Hal apa yang Mba Wiet lakukan untuk membantu Atala mengontrol emosinya ? thx ya..
wietski wrote on Mar 6, '10
mba gita,tipe anak beda2,sikonnya jg beda,klo pengalamanku,atala jarang skali main dgn teman,jd klo ada kesempatan,dia selalu appreciate that moment n perpisahan selalu menjadi momen yang menyedihkan. buatku ini bukan persoalan melanggar janji atau aturan,tapi soal mauku vs maunya atala. bahwa aku udah kepingin pulang smntr atala blm. waktu aku ngajak pulang biasanya sudah ancang2 setengah jam sebelumnya,lalu ada toleransi waktu setengah jam, setelah itu aku terus terang blg klo aku kepingin pulang n menawarkan apa atala mau disitu dulu nanti aku jemput? disini biasanya atala udah nangis2, seringnya pulang dgn heboh. aku melihatnya bukan tangisan marah atau protes, tapi caranya mengungkapkan betapa kecewa dan sedihnya dia berpisah dgn temannya,jd aku berempati. aku bilang, atala masih mau mainnya? dan atala menjawab sambil melolong,kalo temannya yg main kermh dan pulang,atala jg tantrum. sampai sekarang perpisahan msh jadi momen menyedihkan buat atala,tapi kulihat atala sudah mulai bs menerima meski lambat
wietski wrote on Mar 6, '10
buatku,tantrum adalah cara anak mengungkapkan emosinya,don't take it personal,liat apa yg ingin diungkapkan,lalu terjemahkan dan sampaikan ke anak,maksudnya ini? saat sedang tenang,baca buku anak tentang mengenal emosi dan bagaimana menyalurkannya bareng2,yg penting beri contoh juga. ini training jangka panjang. atala juga belum "lulus", maaf ya mba klo terkesan sok tau :P
wietski wrote on Mar 6, '10
btw,aku jg setuju anak belum perlu terekspos pergaulan intens dibawah 7thn, istilah mba ellen dari charlotte mason, anak msh overwhelmed ya. alih2 bs mengendalikan emosi eh malah shutting down their emotion lagi
gitaavie wrote on Mar 6, '10
Sepertinya aku udah mulai dapet gambaran ya apa yang terjadi pada Kalila. Untuk sementara ini aku akan mengalihkan Kalila dahulu dari bermain dengan teman-temannya. Mungkin dia terlalu terekspos :) Thanks a bunch a Mba Wiet
andinirizky wrote on Mar 10, '10
Emang betul sih, kita akan jadi seperti orang-orang yang jadi teman kita sehari-hari. Kalau pada bandel gitu ya mendingan gak usah deket-deket. Cariin temen yang lain aja buat Kalila... masa gak ada sih... kan gak harus anak-anak. Sama tante atau om yang suka anak-anak gitu juga bisa kan.

Tapi kalau di sekolah gak bisa kabur ke mana-mana sih. (Lagi kasihan sama anak sendiri.)
gitaavie wrote on Mar 11, '10
Tapi kalau di sekolah gak bisa kabur ke mana-mana sih. (Lagi kasihan sama anak sendiri.)
Kalila emang aku lagi alihkan dari bermain sama teman-temannya itu :)
Semoga Kanae bisa "kabur" dari sekolah ya ^_^
ardanti wrote on Apr 20, '10
Contoh hal lain lagi :
Bunda selalu mengajarkan untuk menghargai hak milik orang lain. Kita tinggal di Cluster yang memang tiap rumah tidak berpagar. Jika Kalila ingin memasuki halaman rumah orang lain atau hanya sekedar menginjak putri malu, Bunda akan mengingatkan bahwa itu bukan rumah Kalila. Teman Kalila, bukan hanya memasuki pekarangan saja, bahkan berani duduk di terasnya dan tidak bisa dikasih tahu. Teman yang lain, enak saja memetik daun di pohon orang lain.
kog mirip ya ? :O

Add a Comment